Senin, November 19, 2007

Meretas Asa Di Tapak Bima(1)


Ceceran keringat...

Pendakian ini sebenarnya sudah aku rencanakan sejak lama. Pendakian masal ke Gunung Tapak Bima. Aku ingin mengenalkan sosok gunung ini pada para penggiat alam bebas. Selain untuk pelestarian hutan, siapa tahu jika gunung ini terkenal, penduduk sekitarnyapun akan mendapat imbas positifnya. Terutama imbas ekonomi. Peningkatan tingkat ekonominya. Meskipun untuk seramai gunung Lawu akan sangat sulit. Gunung Tapak Bima berada sekitar tigapuluh kilometer dari Madiun dan duapuluh kilometer dari Ponorogo. Kearah tenggara untuk Madiun dan Timur Laut untuk Ponorogo. Gunung ini berada di gugusan pegunungan Wilis bagian Barat. Merupakan puncak tertinggi di gugusan barat tersebut sekitar 2000 meter. Kalau di gugusan timur, puncak tertingginya gunung Liman sekitar 2500an meter. Tapak Bima bisa dilalui dari dua jalur, Jalur Mendak atau Pesanggrahan di Madiun dan Jalur Ngebel di Ponorogo. Aku sebut sama antara jalur pesanggrahan dan mendak karena jalur pesanggrahan yang lebih jauh akan melewati jalur mendak juga. Makanya sekarang jalur pesanggrahan jarang dilewati. Rata-rata para pendaki langsung motong di jalur di mendak yang lebih atas. Lumayan sekitar satu jam perjalanan. Diantara kedua rute tersebut, rute paling nyaman/mudah adalah rute Telaga Ngebel Ponorogo.
Hari yang kami rencanakan sebenarnya adalah hari rabu, H+5 lebaran. Tapi berhubung terlalu mepet, diundur hari kamisnya. Kamis pagi naik, jumat pagi turun. Jumatan di desa Mendak. Selesai jumatan langsung pulang.
Seminggu sebelum lebaran, ada wacana baru, anak-anak mau naik hari sabtu, H+7 lebaran. Katanya beberapa anak dari Ponorogo dan Dolopo (golongannya Lina, baca: Lintas Bumi Mojopahit) akan ikut juga. Tapi mereka nggak memberi kepastian pada kami. Setelah berdebat sengit, kami tidak menemukan kata kata sepakat. Aku udah rencanakan jauh-jauh hari untuk mendaki hari kamis. Terpaksa aku akan naik berdua saja. Dengan temanku yang lain, Edi. Kalaupun Edi nggak mau, ya terpaksa melakukan pendakian solo. Ya untuk latihan mental lah. Udah lama aku nggak ngelakuin pendakian solo.
Anak Ponorogo dan Dolopo membatalkan janjinya pada malam takbiran. Terpaksa anak-anak berembug lagi. Aku tak ikut dalam rembukan tersebut. Aku sudah mantap untuk mendaki hari kamis, dengan atau tanpa teman. Diputuskan pendakian dilakukan hari kamis. Yah, akhirnya aku tidak mendaki solo. Sedikit menyesal. Tapi tak apalah, lain waktu mungkin.
Pendakian dibagi dua klodak (kelompok pendakian), pagi dan sore. Yang pagi lewat jalur Pesanggrahan, yang sore langsung lewat jalur Mendak.
Kamis pagi jam enam, Tharom(baca: Lintas Bumi Mojopahit) sudah kerumahku. Dia konfirmasi masalah keberangkatan. Aku segera packing barang. Jam tujuh aku sebenarnya udah siap, tapi justru anak-anak yang lain yang belum siap. Katanya rombongan pagi ada delapan orang. Aku, Edi, Tharom, dan yang lain aku belum kenal.
Jam delapan kami sudah pergi ke daerah Pintu, Dagangan. Tempat nyari omprengan menuju jalur pesanggrahan. Setelah menunggu cukup lama anak-anak yang lain belum datang juga. Terpaksa aku nyamperin mereka. Di konter HP milik Eli yang berjarak sekitar sekilo dari tempat mencari omprengan. Disinilah biasanya anak-anak melakukan rapat. Inilah base camp kami. Disitu baru ada satu orang yang akan berangkat pagi, Robert alias Sodik. Robert ini anak Ponorogo satu-satunya yang datang.
Sekira setengah jam, rombongan yang lain baru datang(kambing!!! budaya ngaret seperti inilah yang membuat kita banyak membuang waktu untuk hal-hal yang nggak perlu), Gian, Yudi, Andik, dan Samsul. Setelah ngumpul semua di counter hp milik Eli(dia akan ndaki sore), kami segera nyari omprengan. Dapet sih, tapi omprengan ngetem dulu(ini juga buang-buang waktu!!). Nunggu penumpang yang lain katanya. Penumpang yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Setelah kami desak, akhirnya pak sopirnya mau juga. Kami langsung diantarnya ke Pesanggrahan. Titik awal pendakian.
Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan sang mobil untuk membelah jarak Pintu-Pesanggrahan. Kami kena empat puluh ribu. Sebenarnya mereka minta enampuluh ribu, ya kami nego dong. Masih banyak omprengan yang lain jika dia tiada mau.
Begitu sampai pesanggarahan kami langsung berangkat. Pesanggarahan berada sekitar 600 mdpl. Terdiri dari hutan pinus dan diselingi tanaman-tanaman produktif yang dikelola oleh penduduk setempat.
Siang itu udara terik sekali. Ubun-ubunku rasanya mau merekah. Tetapi itu tak menyurutkan langkah kami. Sesampainya dilembahan, disungai pertama yang kami lewati, kami istirahat. Capek juga sih. Sekira lima belas menit tak ada haiwan yang nampak. Monyetpun tiada. Padahal sekitar sepuluh tahun yang lalu di kawasan pesanggrahan sering sekali aku temui kawanan monyet. Dulu tempat ini adalah kawasan orang-orang bermadu kasih(baca:pacaran), dan aku salah satunya. Hehehe… Setelah puas beristirahat kami segera melanjutkan perjalanan.

Kami sempat kehilangan jalan. Kelihatanya jalur ini sudah lama tak dilalui. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya ketemu juga jalur yang dimaksud. Sekira satu jam kami berjalan, sampai juga di desa terakhir. Dusun Gedangan, Desa Mendak di Kabupaten Madiun dan Dusun Semenok, Desa Ngebel di Kabupaten Ponorogo. Dua dusun ini hanya dipisahkan oleh sungai kecil. Dua-duanya bisa dilalui. Tapi lewat dusun Semenok jalannya lebih lebar, karena sering digunakan oleh para pendaki.
Kami istirahat di dusun Semenok, untuk mengisi perekalan air dan untuk mengisi perut kami yang mulai keroncongan. Tharom dan Gian tadi bawa nasi dua bakul, satu untuk di sarapan di Semenok, dan satunya waktu sampai puncak. Kami segera istirahat di bawah pohon. Perbekalan segera kami buka. Tinggal makan aja. Lewat penduduk setempat. “Dik di bawah itu ada kakus.” Anjrittt, sapi perah!!!! Dia nyuruh kami pindah ketempat yang lebih layak. Pantesan dari tadi baunya kok nggak enak gitu, Kampret!!. Udah terlanjur basah. Dibawah bayang-bayang bau dan isi kakus, makanan kami sikat habis. Bahkan daun pisang yang jadi alasnyapun hampir kami sikat jua.

Setelah persiapan semuanya selesai, pukul 12.30 kami berangkat dari Semenok. Jalan awal sih landai banget, datar gitu. Setelahnya kami menemui tanjakan pertama.
Cukup lumayan. Kampring!!! Dengan kemiringan sekitar limapuluh derajat. Badan serasa dibebani tubuh yang luar biasa berat. Baru sepuluh langkah istirahat, lima langkah istirahat, begitu seterusnya. Akhirnya sampai juga dipersimpangan jalur. Tempat landai, yang biasa kami sebut pos satu. Sekira pukul 13. 45. Kami istirahat lima menit. Kami saling tertawa. Melihat teman-teman kelelahan dalam kebersamaan, membuat kami semangat kembali.
Reco Macan adalah tujuan berikutnya. Biasa kami sebut pos dua. Disini sebenarnya tiada Reco(Arca). Yang ada cuma kumpulan batu-batu besar tak beraturan yang mirip orang bersila. Alkisah menurut penduduk, dulu di batu-batu itu sering nampak macan(harimau) bertengger diatasnya. Makanya penduduk sekitar menyebutnya Reco Macan(arca yang sering di singgahi macan, atau arca yang seperti macan, atau apalagi ya?? Arca yang pacaran ma macan!!!hehehehe…) Kami sampai di Reco Macan 14.00. Sekitar lima menit kami istirahat. Disitu kami sempatkan bercanda. Terutama untuk memompa semangat teman-teman yang mulai meluntur, mengikuti fisik yang makin melemah. Tetapi melihat hijaunya hutan, membuat semangat kami bangkit lagi.
Puncak Tapak Bima sudah menunggu kami. Segera kami beranjak. Dengan semangat empat lima, (kenapa harus empat lima, kenapa nggak semangat dua delapan, pas tahunnya sumpah pemuda ya?? Atau semangat 2007??) Gian memimpin pasukan. Menyusuri ilalang yang lebih tinggi dari tubuh kami. Badan beret terkena ilalang, beban menggantung dipundak, peluh membasah, tak mematahkan asa kami. Tubuh makin lelah, jalan makin menanjak, memaksa kami untuk sering istirahat. Kami sampai di pos tiga, tempat landai terakhir sebelum puncak, pukul 15.05. Jarak pos tiga dan puncak cukup dekat. Tapi karena badan yang makin kelelahan, jadi terasa sangat lama.
Setelah berjalan tertatih-tatih(biar dramatis), berdarah-darah(kan beret-beret kena daun ilalang) dan megap-megap(cause udaranya mulai tipis), akhirnya sampai juga kami di puncak. Angka di hp menunjuk 15.30. Kami langsung rebahan kelelahan. Kami sampai puncak secara bersamaan. Delapan orang sekaligus, tanpa ada yang kececer satupun. Dan rasa lelah itu terbayar sudah. Thanks God!!!

Seringkali keberhasilan itu harus dilalui dengan jalan berat. Jalan menanjak, penuh rintangan penuh onak dan duri. Kadan perlu nggetih dalam prosesnya. Tapi seringkali juga, didalam proses yang berdarah-darah tersebut kita menemukan kenikmatan. Kenikmatan yang tidak kita dapat jika kita berada di “comfort zone”. Kenikmatan yang Tuhan berikan seiring dengan kerja keras kita.



Tidak ada komentar: